Adsense

Iklan

Kisah Muthia Fariska Emha, Gadis Asal Jakarta Pertama kali Menjadi Relawan di Ujung Barat Indonesia

harirrizky
Sabtu, 18 September 2021, 14:22 WIB Last Updated 2021-09-18T12:26:48Z


Muthia Fariska Emha, Bersama Anak Desa Jaboi, Sabang (ist)

Acehpost.id I Jakarta - Pertama, saya ucapkan Terimakasih kepada Indonesia Youth Action (IYA) yang telah menyelenggarakan perjalanan seindah ini. Perjalanan 22 jam yang saya lalui dari Jakarta menuju Jaboi awalnya membuat saya mempertanyakan apakah semenarik itu desa jaboi?


Sekitar pukul 14.00 kami mendarat di Desa Jaboi, Kecamatan Sukajaya, Kota Sabang, Aceh dan langsung disambut oleh beberapa perwakilan organisasi pemuda Sabang serta kepala-kepala daerah setempat. Kehangatan yang mereka berikan menjadi awal yang baik dan membuat saya kagum betapa menghargainya mereka akan kedatangan kami.


Hari pertama berlangsung cepat karena hanya setengah hari yang tersisa. Mulai dari makan Bersama dengan teman sejawat dalam satu piring yang merupakan hal baru bagi saya. Sampai dengan makan malam yang disertai canda tawa antar relawan yang semakin saling mengenal.


Di awal kegiatan, kami di undang oleh IPPEMAS untuk berkunjung ke Gunung Berapi Desa Jaboi. Melewati hutan, bukit dan kawah menjadi awal yang memicu adrenalin para relawan. Keindahan dari kawah – kawah tersebut memberi kesan menarik bagi wisata Alam Desa Jaboi. Panjang lereng dan tebing yang kami lewati membuat kami makin bersatu dan solid antar relawan.


Sore harinya, kami mulai melaksanakan tugas kami dengan mengelilingi desa Jaboi, saya yang masuk ke dalam divisi pariwisata ekonomi kreatif memiliki banyak waktu untuk mengelilingi UMKM desa tersebut. Dari sekian banyak UMKM, saya mendapati pabrik bakpia menjadi destinasi favorit saya. Namanya bakpia MD. Kulit bakpia nya lembut, berbeda dengan tekstur bakpia pada umumnya yang lebih keras. Ada rasa coklat, pandan, durian, dan original. Tentunya varian rasa coklat menjadi favorit, keunikan rasa coklat yang lumer di mulut memberikan kesan yang kaya akan rasa. Varian lainnya tentu tidak kalah menggiurkan, tapi rasa coklat tetap menjadi juara.


Selain bakpia, kami juga mengunjungi UMKM pembuatan dodol durian khas desa Jaboi. Ini merupakan dodol terbaik yang pernah saya rasakan. Tekstur luarnya lebih keras tapi dalamnya lembut dan tidak lengket di mulut. Rasanya tidak terlalu manis dan ringan, cocok untuk dikonsumsi dalam julah banyak. Tidak yang semata – mata manis dan menggiungkan.  Bahkan jika dibandingkan dengan permen, teksturnya lebih mudah dikunyah.


Muthia Fariska Emha, Bersama Anak Desa Jaboi, Sabang (ist)

Di lain kesempata, pemuda – pemuda Sabang mengajak kami untuk mengunjungi wisata Mangrove Desa Jaboi untuk menanam bersama. Merupakan pengalaman yang luar biasa untuk dapat terjun langsung menanam mangrove di pinggir pantai desa Jaboi yang indah. Dibawah terik matahari Sabang, dengan segenap hati sukacita kami menggali pasir pantai, menanam benih, dan menancapkan bambu penyangga


Satu spot favorit bagi tim parekraf Indonesian Youth Action yaitu Menara Mercusuar Desa Jaboi yang letaknya tidak jauh dari pantai pasi. Tempat tersebut bisa dikatakan sebagai tempat kerja kami. Dengan pemandangan indah, terik matahari yang dipayungi pohon Rimbun, dan angin pantai yang menyambut kedatangan kami, membuat saya bersyukur memiliki kesempatan untuk mengunjungi desa ini. Sungguh seluruh spot di desa Jaboi adalah keindahan.


Selain segala keindahan yang dimiliki Desa Jaboi, Masyarakat setempat memiliki peran pentin terhadap kesan saya di tanah Sabang. Pak kecik beserta jajarannya, pemuda-pemuda kota Sabang, dan masyarakat setempat yang membantu kami menyelenggarakan segenap acara dan bakti kami untuk desa Jaboi sangat berperan penting akan sukses nya rangkaian kegiatan kami. Antusiasme dari seluruh kalangan di desa Jaboi patut diacungi jempol. Kehangatan yang mereka berikan sangat menyentuh hati. Mulai dari pemijaman sarana dan prasarana yang dipermudah, bantuan – bantuan kebutuhan kami seperti air bersih dan lain sebagainya, akomodasi yang memadai, hingga kehadiran mereka dietiap rangkaian acara kami. Kekeluargaan yang dirasakan kini tidak hanya untuk antar relawan, tetapi untuk seluruh pihak yang terlibat. Adik – adik kecil seperti Kayla, Walif, Muharram, Nurul, Dola, Raiz, bu Ella, bu Emi, dan masyarakat lainnya. Kehadiran mereka dalam hidup saya membuat saya semakin bersyukur sempat mengenal kalian semua.


Ternyata 22 jam tidak ada artinya dibandingkan rasa bahagia saya menginjakkan kaki di tanah sabang, khususnya desa jaboi.  Terimakasih kepada ka CR, ka Pocut, dan segenap pengurus serta jajaran relawan Indonesian Youth Action yang telah memberi kesempatan bagi saya untuk mengenal kalian. Pemuda Indonesia dengan segala talenta dan kerendahan hati memberikan saya kesan paling indah di Desa Jaboi.


Penulis : Muthia Fariska Emha, Mahasiswa Co-ass Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) 

#AksiUntukNegeri


Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Kisah Muthia Fariska Emha, Gadis Asal Jakarta Pertama kali Menjadi Relawan di Ujung Barat Indonesia

Terkini

Iklan