Iklan

Kejahatan Jalanan pada Remaja, Salah Siapa?

Kamis, 21 April 2022, 14:18 WIB Last Updated 2022-04-27T05:21:13Z

Doc.ilustrasi

Acehpost.id | Sleman - Baru-baru ini Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kembali dihebohkan dengan terjadinya kejahatan jalanan yang dilakukan oleh remaja, mengakibatkan meninggalnya seorang pelajar bernama Daffa Adziin Albasith (17) di Gedongkuning, Yogyakarta pada Minggu (3/4/2022) dini hari. Tindakan kejahatan jalanan merupakan salah satu contoh kenakalan remaja yang mana dalam konteks ini dipraktekkan oleh pelajar di DIY. Yogyakarta yang akrab dikenal dengan kota pelajar dan kota yang dirindukan berubah menjadi kota darurat klitih. Peristiwa tersebut menjadi trending topic di Twitter dengan hashtag #jogjadaruratklitih. Sarwono (2017) mendefinisikan klitih sebagai tindakan kekerasan dan kejahatan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku, para pelaku mayoritas kelompok remaja yang berpendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) menggunakan senjata tajam untuk melukai targetnya.


Fakta sebenarnya, kejahatan jalanan yang terjadi di Gedongkuning bukanlah tindakan klitih yang sedang viral belakangan ini. Berdasarkan hasil penyelidikan Dirreskrimum Polda DIY Kombes Pol Ade Ary Syam Indriadi yang dikutip dari jogja.jpnn.com mengungkapkan kejahatan jalanan yang menimpa pelajar tersebut dikategorikan ke dalam tawuran antar kelompok remaja yang disebabkan saling mengejek saat berkendara sepeda motor. Sayangnya, tindakan kejahatan jalanan tersebut menyebabkan kekhawatiran dan keresahan yang mendalam terhadap masyarakat setempat karena tidak hanya memakan satu korban melainkan banyak korban dan bahkan keresahan tersebut juga dirasakan oleh masyarakat luar serta munculnya citra buruk terhadap Yogyakarta itu sendiri.


Awalnya, istilah klitih digunakan oleh masyarakat Jawa untuk mengisi waktu luang dengan jalan-jalan santai menyusuri kota. Namun, era sekarang ini istilah klitih terjadi pergeseran makna yang mana masyarakat atau remaja memaknainya dengan konotasi negatif. Oleh karena itu, Kombes Pol Ade juga menghimbau seluruh masyarakat untuk mengembalikan makna klitih yang sebenarnya yang berkonotasi positif. Pengamat krimonologi Dr. Aroma Elmina Martha, S. H., M. H, mengungkapkan klitih memiliki pengertian yang netral, yaitu kegiatan keliling kota tanpa tujuan tertentu untuk mengisi waktu luang.


Kekerasan dan kejahatan jalanan semacam ini dapat menyebabkan kurangnya minat pelajar luar daerah untuk melanjutkan studinya serta berefek juga terhadap wisatawan yang ingin mengunjungi kota Yogyakarta. Fenomena kejahatan jalanan harus segera diselesaikan sebelum terlambat karena hal tersebut menunjukkan kondisi yang membahayakan. Oleh karena itu, Pemberantasan permasalahan ini menjadi tanggung jawab bersama, baik dari pihak yang berwenang, masyarakat serta keluarga. Upaya yang dapat membantu memecahkan permasalahan ini agar tidak berkepanjangan dan bertambah parah yaitu dengan memahami bagaimana pertumbuhan dan perkembangan yang dialami oleh para remaja atau pelaku kejahatan tersebut. 


Perlu sama-sama dipahami bahwa masa remaja merupakan periode yang mudah dipengaruhi serta memiliki karakteristik rasa penasaran yang tinggi. Sofia & Adiyanti (2013) berpendapat bahwa masa remaja merupakan perubahan atau peralihan dari masa anak-anak sebagai persiapan memasuki masa dewasa yang meliputi perubahan psikologis, biologis, dan sosial. Periode ini sangat menentukan pembentukan karakter dan pengembangan diri dan mental mereka. Terutama keluarga sangat berperan penting dalam membimbing, mengedukasi serta memberikan pemahaman pengetahuan yang baik, ajaran agama, dan perlakuan yang supportif kepada mereka. Remaja yang hidup di lingkungan keluarga dan sosial yang baik cenderung berperilaku positif dan dapat mengambil suatu keputusan yang bijaksana. Jika fenomena kejahatan jalanan dipandang dari sisi psikologi sosial, terdapat dua faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi mental dan prilaku menyimpang remaja. 


Faktor internal meliputi identity crisis (krisis indentitas), self-concept (konsep diri) dan delay of gratification (kemampuan menahan diri untuk memperoleh kepuasan) yang lemah. Krisis identitas disebabkan karena mereka cenderung membutuhkan dan berharap suatu pengakuan dari lingkungannya dengan melakukan perilaku menyimpang untuk mencari perhatian dan identitas diri. Selanjutnya, konsep diri yang dikemukakan oleh Calhoun dan Joan Rose (2003) terbagi dua yaitu konsep diri positif dan konsep diri negatif. Konsep diri positif ialah menerima dan memahami dirinya terhadap berbagai macam fakta dan keadaan dalam dirinya serta ia juga dapat menerima orang lain. Salah satu seseorang memiliki konsep diri positif dalam interaksi sosial ialah memahami, menghargai serta mematuhi aturan atau norma yang berlaku. Sebaliknya, konsep diri negatif ialah ketidakmampuan seseorang dalam memahami dan menghargai kekuatan dan kelemahan dirinya atau tidak mampu menghargai hidupnya. Maka dari itu, remaja yang terjerumus ke dalam perilaku buruk, seperti halnya kejahatan jalanan atau tawuran disebabkan keterbatasan pengetahuan dan pengalaman dalam memahami nilai-nilai dan norma-norma kehidupan sosialnya sehingga dapat memperburuk citra dirinya (self-image). Kemudian, lemahnya delay of gratification menyebabkan kontrol diri yang lemah pula. Seharusnya jika mereka memiliki delay of gratification yang tinggi, maka mereka akan mampu menahan diri terhadap kesenangan dan kepuasan sesaat (Aroma & Suminar 2012). Namun, mereka lebih memilih melakukan tindakan yang berisiko serta menyimpang dari norma-norma yang berlaku hanya untuk kepuasan dan kesenangan sementara, seperti perilaku yang agresif, tindakan kekerasan dan kejahatan jalanan.


Kemudian Faktor eksternal yang mempengaruhi tindakan kejahatan jalanan yaitu teman komunitas dan lingkungannya. Para remaja tersebut dipengaruhi oleh teman sebayanya dimana ada nilai-nilai yang diyakini antar mereka, seperti ingin menunjukkan kehebatannya atau pembuktian eksistensi diri di antara sesama kelompoknya. Anak-anak remaja tersebut belum sepenuhnya mampu mengontrol diri dalam mengambil suatu keputusan dikarenakan keterbatasan fungsi kognisi, pengetahuan, pengalaman, serta persepsi. Oleh karena itu, mereka dengan senang hati melakukan tindakan kekerasan dan minyimpang dari aturan agama serta norma-norma masyarakat tanpa mempertimbangkan resiko serta kerugian yang dialami orang lain. Lingkungan juga sangat berperan penting dalam pembentukan karakter remaja baik dari keluarga maupun sosialnya. Remaja yang merasa diintimidasi dan tidak dihargai oleh keluarganya cenderung bersikap memberontak dan berperilaku buruk dan bahkan terlibat dalam kejahatan kriminal seperti halnya tawuran dan kejahatan jalanan.


Berdasarkan uraian penulis diatas, fenomena kejahatan jalanan yang terjadi di Yogyakarta di satu sisi tidak dapat menyalahkan pemerintah saja, namun terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi remaja akan tindakan kekerasan di jalanan seperti kurangnya perhatian orang tua serta pengaruh dari lingkungan sekitar. Idealnya, semua elemen dapat berkontribusi dalam hal menjaga dan mengarahkan remaja dalam menjalani kehidupan sosial masyarakatnya sehingga diharapkan tidak terjadinya kejahatan jalanan apalagi sampai membahayakan nyawa dan keresahan dalam masyarakat.


Oleh karena itu, semua elemen diharapkan untuk berpartisipasi dalam menanggulangi fenomena kejahatan jalanan di Yogyakarta dengan melakukan beberapa langkah strategis dan praktis. Pertama, memastikan dan menguatkan pendidikan karakter yang baik kepada siswa-siswa di sekolah serta melakukan pendekatan psikologis yang humanis kepada siswa melalui bimbingan dan konseling. Kedua, memperkuat kerja sama antara sekokah, orang tua dan lingkungan dalam mengontrol perkembangan karakter mereka. Dan terakhir, terlibatnya pihak yang berwenang dalam upaya-upaya preemtif, preventif hingga represif untuk mencegah dan menyelesaikan aksi kejahatan jalanan di masa yang akan datang dengan memberlakukan tindakan dan sanksi tegas. Diharapkan dengan adanya upaya dan kerja sama yang serius antara semua elemen mewujudkan kedamaian dan kesejahteraan masyarakat. Yogyakarta kembali menjadi kota pelajar yang dirindukan tanpa aksi kejahatan dan kekerasan.


Oleh: 

Muhammad Zikri

(Mahasiswa Prodi Interdisciplinary Islamic Studies, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga)

E-mail: muhammadzikri77@gmail.com

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Kejahatan Jalanan pada Remaja, Salah Siapa?

Terkini