Iklan

Pasca Penganiayaan Oleh Oknum SATPOL PP- WH, Keluarga Korban Desak DPRK Banda Aceh Turun Tangan

Redaksi
Senin, 27 Juni 2022, 17:25 WIB Last Updated 2022-06-27T10:33:47Z
Misran Korban Koban Pengenaiyayaan oleh oknum SATPOL PP & WH Kota Banda Aceh, Masih terbaring dirumah beralamat di Jln Tongkol II Nomor 382 Perumnas Ujung Batee Desa Neuhen Kecamatan Mesjid Raya Aceh Besar. Sabtu pada Tgl 25 Juni 2022.

Acehpost. Id || Banda Aceh -Pasca terjadi Insiden Penganiayaan terhadap saudara Misran yang terjadi di jalan H T Usman Desa Doy Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda Aceh pada tanggal 10 Februari 2022 yang lalu, Keluarga Korban meminta kepada Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Kota Banda Aceh.

Hal tersebut diungkapkan oleh Ayah Korban, Ayahlah dengan harapan Ketua DPRK Banda Aceh saatnya peduli terhadap masyarakat miskin yang selama ini tertindas oleh para Penguasa Dhalim, tentunya hal tersbut sangat bertolak belakang dengan Selogan Walikota Banda Aceh H Aminullah Usman yaitu “Kota Madani dan Gemilang Dalam Bingkai Syariah.” Sebut Ayahlah Kepada Media Acehpost. 25 Juni 2022. 

Masih Kata Ayahlah. “Tindakan amoral oknum Satuan Polisi Pamong Praja- Wilayatul Hisbah, SATPOL PP- WH), Kota Banda Aceh kepada rakyat jelata yang telah melanggar hokum positif dan mencoreng Kota Madani dalam Bingkai Syariah , maka kami dari keluarga korban Penganiayaan meminta kepada Legislatif untuk memanggil dan menegur oknum tersebut dan kalau terbukti melanggar hukum maka harus diberhentikan dari kesatuannya.
Akibat dari perbuatan oknum Pol PP-WH Kota Banda Aceh, kami merasa sangat dirugikan, baik kerugian materil maupun immaterial dampak dari pada Insiden penganiayaan dilakukan oleh Anak Kami untuk pengobatan sekarang ini terpaksa berhutang kepada kerabat kini telah mencapai puluhan juta rupiah untuk biaya pengobatan dan terapi anak kami sudah berlangsung berbulan-bulan dirumah, sementara kami adalah keluarga Miskin butuh perhatian serius dari Pemerintah,

Lebih lanjut, Pasca penganiayan terjadi pada tanggal 16 Februari 2022 memang beberapa Petinggi SAT POL PP-WH Kota Banda Aceh pernah menjenguk Korban dijalan Tongkol II Nomor 382 Perumnas Ujung Batee Desa Neuhen Kecamatan Mesjid Raya Aceh Besar seraya untuk meminta maaf kepada kami, 

Akan tetapi yang kami harapan buka sekedar meminta maaf saja kepada kami atas kesalahan anak buahnya arogasi ketika menjalani tugas dipalangan yang tidak mengedepankan Standar Operasional Prosedur (SOP) sambari mereka menangis-nangis sesali perbuatan bawahannya, dan kami juga sudah memaafkan meskipun secara lisan. 

Akan tetapi mereka harus bertanggung jawab kesembuhan anak kami, artinya bukan tidak ada pengobatan sama sekali, 

Dimana yang kami rasakan sekarang ini anak kami Misran berusia (23) Tahun tidak kunjung sembuh, sementara sekarang ini tidak sedikit telah mengeluarkan biaya untuk perobatan alhasil Misran sampai sekarang masih terbaring, tidak bisa aktivitas sama sekali.” terang Ayah Lah     

“Negara kita ini adalah Negara hukum bukan Negara Kekuasaan, dimana  setiap hamba hukum wajib mendapatkan perlindungan yang sama dimata hukum tanpa memandang stastus social dan golongan (equality before the law).
Korban Pengeroyokan dilakukan oleh oknum SATPOL PP- WH Banda Aceh menyebabkan korban merasa sakit yang sangat serius dibagian dada diduga akibat kena pukulan secara bergantian, 
Dampak daripada penganiaayaan tersebut terkilir bagian tangan sebelah kiri diduga kena pukulan benda tumpul, selain itu rasa sakit pada kepala bagian belakang dan rasa sakit yang sangat serius pada bagian kemaluan kondisi ini akibat tindakan arogansi oleh Petugas dilapangan secara ramai-ramai menyebabkan korban tidak berdaya, akibat dari insiden ini,

Kini korban telah dilakukanVisum di Rumah Sakit Bhayangkara dan telah membuat Laporan Penganiayaan ke Polresta Banda Aceh Nomor LP/B/73/II/2022/SPKT/POLRESTA BANDA ACEH/POLDA ACEH pada tanggal 12 Februari 2022 dan saat ini masih dalam tahapan Penyidikan. Hal ini dikatakan oleh Rusdi S.H Kuasa Hukum Misran.

Rusdi S.H berharap kepada Instansi Kepolisian maupun Ketua DPRK Kota Banda Aceh Farid Nyak Umar S.T. untuk menindak lanjuti perkara ini sampai tuntas, 

karena pelakunya merupakan Publik Figur yang seharusnya menjadi contoh teladan sebagai Kota Gemilang dalam Bingkai Syria bukan malah menjadi boomerang dan ocehan dimasyarakat, 

akibat dari kejadian ini korban melalui kuasanya meminta kepada  oknum pelaku dapat dijerat denganpasal 351 ayat 1 dan 2 KUHP (Kitab Undan-Undang Hukum Pidana). Demikian Pinta Rusdi S.H turut di dampingi oleh Usman S.H. (Diki)
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Pasca Penganiayaan Oleh Oknum SATPOL PP- WH, Keluarga Korban Desak DPRK Banda Aceh Turun Tangan

Terkini