Iklan

Kondisi Perekonomian Provinsi Aceh Pasca Konflik dan Bencana Tsunami

Redaksi
Jumat, 15 Juli 2022, 18:03 WIB Last Updated 2022-07-15T21:52:11Z



Penulis: Nurul Fadhilah 

Acehpost.id | Banda Aceh - Ekonomi merupakan sesuatu yang penting untuk di pelajari oleh seluruh elemen masyarakat. Ekomoni merupakan keilmuan yang membahas perilaku manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Artinya sejahteranya kehidupan dalam bermasyarakat sangat tergantug kepada status baik atau buruknya status perekonomian di daerah tersebut.


Pembangunan ekonomi sudah banyak di bahas oleh pakar-pakar ekonomi seperti Menurut Sadono Sukirno (1996: 33) pertumbuhan dan pembangunan ekonomi memiliki definisi yang berbeda, yaitu pertumbuhan ekonomi ialah proses kenaikan output perkapita yang terus menerus dalam jangka panjang. Pertumbuhan ekonomi tersebut merupakan salah satu indikator keberhasilan pembangunan. Dengan demikian makin tingginya pertumbuhan ekonomi biasanya makin tinggi pula kesejahteraan masyarakat, meskipun terdapat indikator yang lain yaitu distribusi pendapatan. Sedangkan pembangunan ekonomi ialah usaha meningkatkan pendapatan perkapita dengan jalan mengolah kekuatan ekonomi potensial menjadi ekonomi riil melalui penanaman modal, penggunaan teknologi, penambahan pengetahuan, peningkatan ketrampilan, penambahan kemampuan berorganisasi dan manajemen. Pembangunan ekonomi didefinisikan dalam beberapa pengertian dengan menggunakan bahasa berbeda oleh para ahli, namun maksudnya tetap sama.


Oleh karena itu, dalam upaya-upaya untuk menciptakan perekonomian yang baik di suatu wilayah memerlukan strategi yang matang untuk mempertimbangkan berbagai aspek kehidupan masyarakat di daerah tersebut. Aceh misalnya, Provinsi Aceh merupakan daerah penerapan syariat islam. Jadi, dalam upaya-upaya pembangunan ekonomi di Provinsi Aceh perlu memperhatikan syariat Islam yang berlaku di Aceh. Agar Kemudian, Strategi-Strategi pembangunan ekonomi di daerah tersebut tidak berbenturan dengan kehidupan masyarakat Aceh yang menerapkan syariat Islam dalam keberlangsungan kehidupan masyarakatnya.

A. Konflik Gam Dengan RI (1976-2004)

Namun kemudian, konflik bersenjata di suatu wilayah menjadi indikator daripada kondisi perkonomian yang buruk di suatu wilayah tersebut. Karena pada saat konflik berlangsung beberapa komponen penting kehidupan menjadi lumpuh seperti Pendidikan, kesehatan, pekerjaan dan perekonomian. Aceh menjadi contoh, pada saat konflik bersenjata antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Tentara Republik Indonesia (TNI) sedang berlangsung, kehidupan masyarakat menjadi terbatas. 


Keresahan masyarakat pada waktu itu membuat ladang/sawah menjadi lapangan yang tandus. Sehingga masyarakat Aceh yang dikenal dengan keunggulan nya di sektor pertanian pada waktu itu sempat berhenti. Walaupun ada sebahagian masyarakat yang dengan terpaksa bercocok tanam walau konflik bersenjata sedang berlangsung.


Bukan hanya sektor pertanian, sektor pendidikan juga demikian. Betapa banyak anak-anak yang trauma pada saat suara-suara senjata pada waktu itu. Sehingga hal itu menjadi keseresahan tersendiri bagi anak-anak untuk pergi ke sekolah. Bukan hanya itu, betapa banyak juga anak-anak kombatan GAM yang harus menjadi anak yatim/piatu pada waktu itu karena ayah dan ibunya meninggal di medan pertempuran. Sehingga kemudian, anak-anak usia pelajar tersebut harus menetap dirumah dan berdiam diri karena tidak ada yang membiayai pendidikan nya. Sangat ironis kondisi pendidikan aceh pada waktu itu. 


Pada saat yang sama berbagai kecaman ancaman datang dari ketua belah pihak kepada masyarakat baik itu GAM maupun TNI. Oleh sebab itu menimbulkan keresahan yang berhasil membuat masyarakat terkesan ambigu dalam bergerak. Ada banyak kasus yang terjadi misalnya, pembakaran 251 sekolah di aceh yang dilakukan oleh GAM pada tahun 2003 sebagai upaya menghalangi pelajar untuk belajar tentang Pendidikan Pancasila dan  Kewarganegaraan yang notabennya merupakan kurikulum yang diatur oleh kementerian pendidikan pada saat itu.


Kemudian kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang dilakukan oleh TNI kepada masyarakat juga sempat terjadi sehingga menewaskan 46 warga sipil pada waktu itu. Kejadian itu terjadi di sebuah persimpangan jalan dekat pabrik PT Kertas Kraft Aceh di Kecamatan Dewantara, Aceh Utara. Kini ditempat kejadian, persimpangan tersebut di beri nama Tragedi Simpang KKA dan diperingati setiap tahunnya oleh masyarakat sekitar.


Beberapa kasus diatas sangat menggambarkan bagaimana kondisi keberlangsunga kehidupan masyarakat pada konflik berlangsung.

B. Bencana Tsunami Aceh 2004 

Setelah konflik bersenjata, Provinsi Aceh kembali di terpa bencana. Kali ini, bencana alam yang mendatangkan mala petaka besar bagi masyarakat Aceh. Pada minggu, 26 desember 2004 Aceh di terpa bencana Tsunami yang menewaskan ribuan masyarakat aceh sekitar 230 ribu nyawa melayang pada tragedi tersebut. Korban bukan hanya dari masyarakat Aceh melainkan dari Provinsi lain bahkan dari Negara lain.


Oleh karena itu, banyak dampak buruk yang timbul pasca tsunami. Terutama pada kondisi infrastukstur, psikologi dan perekonomian masyarakat pada saat itu. 80% infrastruktur rusak parah seperti jalan, arus listrik, bangunan dan fasilitas publik lainnya yang mengharuskan rekonstruksi secara penuh dalam memperbaiki seluruh infrastruktus yang rusak pada saat itu.


Kemudian, seperti yang telah di tuturkan di atas, bahwasanya 80% infrastruktur rusak parah termaksud bangunan usaha warga dan berbagai komponen pendongkrak perekonomian masrayarakat lainnya. Maka kemudian, kondisi perekonomian pada masa rekontruksi Aceh selama 8 tahun sangat bergantung pada Bantuan Sosial (BANSOS) yang kerap datang dari NGO internasional pada waktu itu. Tahun berjalan pada masa rekontruksi bangunan perumahan warga kembali dibangun. Dilansir dari media TempoNasional.com Pada, (24/12/2014) dana yang masuk ke Aceh yang di alokasikan untuk rekontruksi Aceh sekitar 120 T. 


Setelah rekontruksi berlangsung selama 8 tahun, kondisi pembangunan mulai membaik, mobilitas warga mulai membaik, aktivitas perekonomian mulai membaik. Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi (BRR) yang menjadi penyelenggara upaya rekonruksi Aceh pasca tsunami mendapat apresiasi Wajar tanpa Pengeculian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK-RI) atas laporan keuangan yang baik dan hasil yang baik pada tahun 2007.


C. Kondisi Perekonomian Pasca Konflik dan Tsunami 

Pasca konflik dan tsunami berbagai macam upaya dilakukan pemerintah untuk memulihkan kondisi perekonomian di aceh. Upaya rekontruksi pembangunan secara penuh sukses dilakukan. Kemudian, ditambah lagi dengan hasil pertamaian Aceh antara GAM dengan RI yang menjadikan Aceh sebagai daerah istimewa dan mendapatkan dana Otonomi Khusus (OTSUS) yang di kucur setiap tahunnya. Kemudian, dalam upaya perbaikan perekonomian masyarakat juga dibantu oleh kekayaan alam yang melimpah di Aceh. Aceh kaya akan gas alam, mineral dan tanah yang subur sehingga sangat membantu masyarakat untuk mandiri dalam meningkatkan kualitas perekenomiannya.


Tetapi hal itu berbanding terbalik, aceh yang diketahui sebagai daerah pemodal malah menjadi daerah termiskin di Sumatera dan mendapat urutan ke 6 di Nasional setelah Papua. Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik Aceh menyebutkan jumlah penduduk miskin di provinsi ujung barat Indonesia itu berjumlah 15,53% dan menjadi yang tertinggi di pulau sumatra


Seharusnya Aceh tidak pantas disebut sebagai provinsi termiskin, karena Aceh merupakan daerah modal. Dibalik itu juga aceh setiap tahunnya di kucur dana segar oleh pemerintah. Sehingga sangat tidak rasional, aceh menjadi miskin dalam tumpukan kekayaan yang ada. Hal itu membuktikan, ada sesuatu yang salah dalam hal pengelolaan keuangan Aceh sehingga setiap pengalokasian dana tidak berdampak langsung kepada perbaikan perkekonomian masyarakat yang telah lama rapuh akibat konflik bersenjata dan bencana tsunami.


Dalam hal ini, penulis berpendapat aceh ini tidak miskin. Tetapi, kita dimiskinkan oleh pengelola, penguasa dan mereka-mereka yang menjadi pemangku kebijakan. Kemudian, penulis yakin, Aceh akan menjadi provin yang lebih unggul dari yang lain jika dikelola dengan baik.


Referensi

https://regional.kompas.com/read/2021/03/21/063600578/cerita-asep-kilas-balik-gempa-dan-tsunami-aceh-2004-ratusan-ribu-jiwa-.

https://www.worldbank.org/in/news/feature/2012/12/26/indonesia-reconstruction-chapter-ends-eight-years-after-the-tsunami

https://www.liputan6.com/news/read/55114/ratusan-sekolah-dibakar-pemerintah-mengaku-lalai

http://p2k.itbu.ac.id/id3/3064-2950/Tragedi-Simpang-Kka_203812_itbu_p2k-itbu.html

https://kontras.org/2019/05/04/2-dekade-tragedi-simpang-kka-kapan-negara-hadir-untuk-korban/

https://id.wikipedia.org/wiki/Operasi_militer_Indonesia_di_Aceh_2003-2004

https://www.blangdhod.desa.id/potensi-provinsi-aceh/

https://mediaindonesia.com/nusantara/418897/bps-penduduk-miskin-di-aceh-tembus-834-ribu

https://aceh.bps.go.id/

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Kondisi Perekonomian Provinsi Aceh Pasca Konflik dan Bencana Tsunami

Terkini