ACEHPOST– BIREUEN — Di saat masyarakat belum pulih dari trauma banjir bandang, praktik galian C ilegal justru diduga kembali “menggila” di wilayah Kecamatan Jeunieb dan Samalanga, Kabupaten Bireuen. Truk-truk bermuatan batu raksasa terlihat melintas bebas di jalan nasional—tanpa rasa takut, tanpa hambatan, seolah hukum hanya pajangan.
Fenomena ini bukan lagi sekadar pelanggaran biasa. Ini sudah seperti tantangan terbuka terhadap negara. Batu-batu besar yang selama ini menjadi benteng alami gunung, kini dikeruk habis demi keuntungan segelintir pihak. Ironisnya, aktivitas itu tetap berjalan meski wilayah tersebut baru saja dihantam bencana.
Pertanyaannya sederhana: di mana pengawasan? siapa yang membiarkan ini terjadi?
Warga menilai ada pembiaran yang mencurigakan. Sebab, mustahil truk bermuatan besar bisa lalu-lalang di jalan nasional tanpa ada yang tahu. Bahkan, sebagian masyarakat mulai berani bersuara bahwa praktik ini diduga kuat melibatkan “orang kuat” di belakang layar.
“Ini bukan lagi sembunyi-sembunyi, ini sudah terang-terangan. Kalau dibiarkan, berarti ada yang ikut bermain,” ujar seorang warga dengan nada kesal.
Dampaknya tidak main-main. Pengambilan batu skala besar membuat struktur gunung melemah. Ketika hujan turun, potensi longsor dan banjir susulan semakin besar. Artinya, bencana berikutnya hanya tinggal menunggu waktu.
Lebih parah lagi, jalan nasional yang dilalui truk-truk berat tersebut juga terancam rusak. Negara bisa dirugikan, rakyat jadi korban, sementara pelaku diduga terus meraup keuntungan tanpa tersentuh hukum.
Kini, publik menunggu langkah tegas dari pemerintah daerah dan aparat penegak hukum. Jika tidak ada tindakan nyata, maka kepercayaan masyarakat bisa runtuh.
Karena pada akhirnya, ini bukan hanya soal tambang ilegal—
ini soal keberanian negara menegakkan hukum atau justru kalah oleh kepentingan.









