Home / Berita / Daerah / Ekbis / Pendidikan

Senin, 18 Desember 2023 - 18:26 WIB

PEMIKIRAN MAHMUD YUNUS TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM

Redaksi - Penulis Berita

Oleh : Ammusri

Prof. Dr. H. Mahmud Yunus adalah seorang ulama dan ahli tafsir Al-Qur’an yang berjasa dalam pengembangan pendidikan Islam di Indonesia. Melalui jabatannya di Departemen Agama, ia menginisiasi dan memperjuangkan masuknya mata pelajaran pendidikan agama dalam kurikulum nasional. Ia menghasilkan setidaknya 75 judul buku, termasuk menyusun Tafsir Qur’an Karim dan Kamus Arab–Indonesia. Buku-bukunya masih dipergunakan untuk keperluan pengajaran madrasah dan pesantren Indonesia. Yunus menerima gelar doktor kehormatan di bidang tarbiyah dari UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Namanya diabadikan pada UIN Mahmud Yunus, Batusangkar dan jalan menuju kampus UIN Imam Bonjol, Padang.

Yunus memperoleh pengalaman mengajar sejak remaja di surau dan Madras School Sungayang pimpinan Muhammad Thaib Umar, tempat dulunya ia mengikuti pendidikan. Pada 1919, ia bergabung dengan Persatuan Guru Agama Islam (PGAI) yang kelak membidani beberapa sekolah Islam dan perguruan tinggi Islam terawal di Indonesia. Sejak 1924 sampai 1930, ia kuliah di Universitas Al-Azhar dan Universitas Kairo, Mesir. Ia kembali mengajar di Madras School, sembari memperkenalkan perjenjangan madrasah yang dipakai Indonesia saat ini. Pada 1932, ia pindah mengajar di Padang, membuka Normal Islam School, dan memimpin Sekolah Tinggi Islam (STI) Padang
Sejak pendudukan Jepang, Yunus bekerja dalam pemerintahan membidangi masalah pendidikan Islam. Ia mendorong masuknya mata pelajaran pendidikan agama di sekolah negeri di Minangkabau. Setelah kemerdekaan, ia meneruskan upaya yang sama untuk diberlakukan di Sumatra dan disetujui pada 1947. Mata pelajaran agama diadopsi dalam kurikulum nasional sejak 20 Juanuari 1951 lewat usulannya sebagai pegawai Departemen Agama. Dari tahun 1957 hingga 1960, Yunus menjabat sebagai rektor pertama Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA), cikal bakal UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Berikutnya, ia menjadi rektor pertama IAIN Imam Bonjol Padang sejak 1967 sampai 1971 ketika ia pensiun sebagai pegawai Departemen Agama. Ia meninggal dalam usia 82 tahun pada 16 Januari 1982.

Pendidikan di timur tengah
Sejak berusia 20 tahun, Yunus sudah berencana melanjutkan studi ke Mesir. Keinginan itu dipengaruhi oleh intensitasnya membaca pemikiran Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha di majalah Al-Manar. Namun, Yunus gagal memperoleh visa dari Inggris. Karena kegagalan tersebut, ia mengintensifkan diri menulis buku-buku, sambil tetap mengajar. Ia mencari cara dengan jalan menunaikan ibadah haji ke Mekkah lewat Penang, Malaysia, tepatnya pada Maret 1923. Setelah itu, ia menyeberang ke Mesir untuk mewujudkan asanya kuliah. Biaya yang diperlukan untuk perjalanan ditanggung oleh sang mamak, Ibrahim Datuk Sinaro Sati.
Yunus memulai kuliahnya di Universitas Al-Azhar pada awal 1924. Di Mesir, Yunus bergabung dengan Al-Jami’ah Al-Khairiah pimpinan Djanan Tajib dan ikut mengelola majalah organisasi Seruan Azhar. Edisi pertama majalah itu memuat editorial Mahmud Yunus berisi seruan agar penduduk Indonesia dan Tanah Melayu dan Indonesia sebagai satu bangsa serumpun bersatu-padu untuk berjuang mencapai kemajuan dan kemakmuran bersama. Indonesia dan Tanah Melayu adalah satu umat, satu bangsa, satu adat, satu adab sopan, “apalagi hampir kesemuanya adalah satu agama”.

Baca Juga :  Sat Resnarkoba Tangkap Dua Oknum Mahasiswa Karena Sabu, Pergunu Nagan Raya Apresiasi

Yunus menyelesaikan kuliahnya pada 1925 dengan menggondol ijazah Syahadah Alimiyah. Ia tercatat sebagai orang Indonesia kedua yang lulus di Al-Azhar setelah Djanan Tajib. Mengikuti saran gurunya di Al-Azhar, ia melanjutkan kuliah ke Darul Ulum (kini berada dalam Universitas Kairo). Ia diterima sebagai sebagai mahasiswa di kelas bagian malam; seluruh mahasiswanya berkebangsaan Mesir kecuali ia sendiri. Selama di Darul Ulum, ia mendapatkan pengecualian membayar uang kuliah atas amaran Menteri Pendidikan Mesir. Ia lulus setelah empat tahun di Darul Ulum dan memperoleh diploma guru di bidang ilmu kependidikan pada Mei 1930.Yunus adalah mahasiswa asing pertama yang tamat dari Darul Ulum. Pada bulan Oktober 1930, ia bersiap kembali ke Indonesia.

Setelah kemerdekaan, Yunus kembali memperjuangkan usulan memasukkan mata pelajaran agama Islam ke dalam kurikulum sekolah-sekolah pemerintah. Usul ini diterima oleh Jawatan Pengajaran Sumatera Barat, yang pada waktu itu dikepalai oleh Saaduddin Jambek, dan mulai diterapkan 1 April 1946 di seluruh Sumatera Barat. Jawatan Pengajaran Sumatera Barat mempercayakannya menyusun kurikulum dan menentukan buku-buku pegangan untuk keperluan pengajaran.
Sejak November 1946, Yunus menjabat sebagai Kepala Bagian Agama Islam Jawatan Agama Provinsi Sumatra dengan kedudukan di Pematangsiantar. Pada Januari 1947, ia kembali mengusulkan hal yang sama kepada Jawatan Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan Sumatra. Usul ini mendapat persetujuan pada Maret 1947 dan sejak saat itu, pendidikan Islam masuk secara resmi ke dalam kurikulum sekolah-sekolah pemerintah di seluruh Sumatra. Seiring dengan itu, pemerintah provinsi mengadakan kursus untuk guru-guru agama di Pematangsiantar selama sebulan penuh. Kursus ini diikuti oleh utusan dari seluruh daerah di Sumatra dan sebagai pimpinan kursus dipercayakan kepada Mahmud Yunus.
Pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), Yunus membuka sekolah-sekolah darurat. Ia sempat mengemukakan rencana mendirikan madrasah tsanawiyah untuk seluruh Sumatra. Rencana ini mendapat persetujuan dari Menteri Agama PDRI Teuku Muhammad Hasan. Setelah pengakuan kedaulatan Belanda atas Indonesia, beberapa madrasah tsanawiyah dengan nama Sekolah Menengah Pertama Islam (SMPI) dibuka di Sumatera Barat. Madrasah ini diselenggarakan secara swasta meskipun Yunus telah memperjuangkannya untuk dijadikan sebagai sekolah negeri.
Pada 1950, Yunus mengusulkan kepada pemerintah untuk mengompromikan kurikulum yang diterapkan di Sumatra dengan kurikulum nasional. Usul ini dibahas bersama dalam panitia yang dipimpin Mr. Hadi mewakili Departemen Pendidikan dan Pengajaran dan Yunos sendiri mewakili Departemen Agama. Pada 20 Januari 1951, dua departemen tersebut mengeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) yang isinya antara lain: menetapkan pendidikan agama di setiap jenjang pendidikan negeri dan swasta—mulai dari sekolah rendah, sekolah lanjutan tingkat pertama dan atas, hingga sekolah kejuruan—dengan lama dua jam dalam seminggu (“kecuali di lingkungan istimewa”). Ini masih diterapkan sampai sekarang di Indonesia sebelum berlakunya kurikulum 2013, yang menambah lama pelajaran agama menjadi empat jam.
Sepanjang hidupnya, Yunus menulis sedikitnya 75 buku. 49 judul buku ditulis dalam bahasa Indonesia dan 26 judul buku ditulis dalam bahasa Arab. Sebagian besar buku-bukunya saat ini masih dipergunakan untuk keperluan pengajaran madrasah dan perguruan tinggi. Kamus Arab–Indonesia yang disusunnya masih mudah didapatkan saat ini. Beberapa judul bukunya yang dijadikan buku pegangan pendidikan agama di antaranya tiga jilid al-Fiqh al-Wadhih dan tiga jilid at-Tarbiyah wa at-Ta’lim.

Baca Juga :  Penutupan Edu Talent Competition 2023: Memupuk Bakat Gemilang, Menyongsong Generasi Kreatif Indonesia

Karyanya yang berpengaruh adalah Tafsir Qur’an Karim yang diterbitkan pada tahun 1938. Tafsir ini tercatat sebagai pionir karya tafsir berbahasa Indonesia sejak dijadikan bahasa persatuan. Dua cetakan pertama terjual dalam beberapa bulan saja. Tafsir ini telah dicetak sebanyak 200.000 eksemplar hingga tahun 1983 dan telah mengalami cetak ulang sebanyak 23 kali. Dalam otobiografinya yang terbit setelah ia meninggal, Yunus mengatakan bahwa ia mulai menulis tafsir ini sejak tahun 1921.

Berikut adalah beberapa karya Mahmud Yunus:

• Kesimpulan isi Quran
• Sejarah pendidikan Islam
• Sejarah pendidikan di Islam
• Soal jawab hukum Islam
• Hukum warisan (harta pusaka) dalam Islam
• Sedikit uraian tentang dasar negara, ekonomi, sosial, dan kebudajaan Islam
• Hukum perkawinan dalam Islam disusun setjara Buku Undang-Undang Barat
• Keringkasan ilmu djiwa anak2 untuk guru2 dan ibu bapak
• Pedoman Goeroe pengetahoean tentang ilmoe mengadjar
• Studi perbandingan antar madzhab tentang beberapa hukum Islam
• Pengetahuan umum tentang ilmu mendidik (bersama Sutan Muhammad Said)
• Al-Muhadatsatul Arabiyah (bersama Muchtar Jahja)
• Metodik khusus bahasa Arab
• Metodik khusus pendidikan agama
• Pokok-pokok pendidikan dan pengajaran
• Riwajat rasul jang 25 (bersama Rasyidin Zuber Usman)
• Beberapa kisah
• Kitab Zakat
• Puasa dan zakat
• Ibadah haji dan zakat
• Manasik hadji
• Marilah sembahjang!
• Marilah ke Al-Quran
• Pelajaran bahasa Arab
• Akhlak
• Ilmu musthalah hadis (bersama Mahmud Aziz)
Ditulis oleh Ammusri

Share :

Baca Juga

Berita

Perjuangan Pemulihan Identitas: Mahasiswa PMI UIN Ar-Raniry Bahas ‘Media dan Budaya’ dalam Kuliah Tamu

Berita

Dua Srikandi Memimpin Sema dan Dema FDK

Pendidikan

Pj Geuchik Aneuk Laot Sabang Apresiasi Kegiatan Nusantara Mengabdi #3 Edusantara

Pendidikan

Peduli Disabilitas: Edusantara.id Melaksanakan Kegiatan Pemberdayaan di SLB Negeri 2 Sabang.

Berita

Pilpres dan Pileg 2024; antara Idealisme dan Harga Diri

Daerah

Projo Aceh Jaya membagikan 1000 paket susu kue dan buah gratis untuk masyarakat Aceh Jaya

Daerah

Momentum Isra’ Mi’raj, Alumni IKAS Saling Mendorong di Jalur Politik

Daerah

Dayah Tauthiatul Maghfirah Gampong Blang Krueng Aceh Besar Memperingati Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW