ACEHPOST- Banda Aceh – Kebijakan melarang pedagang asongan mencari nafkah di area event yang sedang berlangsung di Kota menuai kecaman keras dari masyarakat. Banyak yang menilai aturan tersebut tajam ke bawah namun tumpul ke atas, karena yang ditertibkan justru rakyat kecil yang hanya berjuang mendapatkan uang seribu dua ribu rupiah untuk makan keluarga.
Para pedagang mengaku kecewa berat. Di tengah ekonomi yang sulit, saat harga kebutuhan pokok terus naik, mereka justru dilarang masuk ke keramaian yang menjadi satu-satunya harapan untuk mencari rezeki tambahan.
“Kalau kami tak boleh jualan, apakah pemerintah mau isi dapur kami? Mau bayar beras kami? Mau beli susu anak kami?” keluh salah seorang pedagang dengan nada geram.
Kebijakan yang dikaitkan dengan Wali Kota kini menjadi bahan pembicaraan panas di media sosial. Netizen ramai menilai pemerintah lebih sibuk mengejar citra kerapian acara dibanding memikirkan nasib wong cilik yang setiap hari berjuang hidup.
Banyak warga menegaskan, penataan kota memang penting, namun jangan sampai berubah menjadi penindasan halus terhadap masyarakat kecil. Jika pedagang besar diberi ruang, mengapa pedagang asongan yang hanya membawa dagangan kecil justru disingkirkan?
Kini suara rakyat mulai lantang terdengar: jangan jadikan event meriah, tapi air mata rakyat kecil berjatuhan. Pemerintah diminta segera membuka mata dan hati, sebelum kemarahan publik semakin meluas.









