Home / Daerah / Headline / Nasional

Sabtu, 2 Mei 2026 - 03:15 WIB

PROYEK JEMBATAN KRUENG TINGKEUM: “NGEGAS” DI ATAS KERTAS, TERPATAH-PATAH DI LAPANGAN

Reza Kabiro Aceh - Penulis Berita

 

ACEHPOST — Bireuen Proyek strategis nasional yang seharusnya menjadi kebanggaan justru berubah menjadi bahan amarah publik. Pembangunan Jembatan Krueng Tingkeum di Kecamatan Kutablang, Kabupaten Bireuen, kini dinilai lebih banyak “gembar-gembor” daripada hasil nyata di lapangan.

Sejak seremoni pemancangan pertama pada 21 Januari 2026 yang dihadiri pejabat pusat, proyek ini dipoles sebagai simbol percepatan pembangunan pascabencana. Namun realitanya jauh dari narasi megah tersebut. Hingga akhir Februari 2026, progres baru 18 persen—angka yang bukan hanya lambat, tapi mengkhawatirkan untuk proyek dengan target selesai Juli 2026.

Artinya jelas: waktu terus berjalan, tapi progres seperti tertahan.

Jembatan rangka baja sepanjang sekitar 150 meter yang dijanjikan sebagai solusi permanen kini masih sebatas rangka dan tiang yang berdiri tanpa kepastian. Memang, puluhan pilar sudah dipancang hingga kedalaman puluhan meter. Tapi pembangunan bukan soal “berapa dalam tiang ditanam”, melainkan seberapa cepat jembatan bisa digunakan rakyat.

Yang lebih mengundang tanda tanya besar, proyek ini bukan tanpa pengawasan. Pejabat tinggi negara sudah turun langsung ke lokasi. Namun hasilnya? Tidak ada lonjakan signifikan. Tidak ada percepatan yang terasa. Seolah kunjungan hanya menjadi formalitas tanpa dampak nyata.

Sementara itu, masyarakat dipaksa bertaruh keselamatan setiap hari di atas jembatan darurat (bailey). Jalur sempit, kapasitas terbatas, dan risiko tinggi menjadi makanan sehari-hari pengguna jalan lintas Banda Aceh–Medan. Ini bukan sekadar ketidaknyamanan—ini potensi bahaya yang nyata.

Janji penyelesaian Juli 2026 kini terdengar makin kosong jika tidak ada perubahan drastis. Publik mulai membaca pola lama: proyek besar, anggaran besar, tapi progres kecil.

“Jangan cuma pandai bikin target. Rakyat butuh hasil, bukan janji,” tegas seorang warga dengan nada kesal.

Yang paling memperparah situasi adalah minimnya transparansi. Tidak ada penjelasan terbuka: apa sebenarnya kendala di lapangan? Apakah masalah teknis, lemahnya manajemen, atau ada faktor lain yang sengaja ditutup-tutupi?

Jika kondisi ini terus dibiarkan, proyek Jembatan Krueng Tingkeum berpotensi menjadi simbol kegagalan—contoh nyata bagaimana proyek strategis bisa kehilangan arah di tengah jalan.

Kini bola panas ada di tangan pemerintah dan pelaksana proyek. Mau terus berlindung di balik laporan progres, atau benar-benar turun tangan menyelamatkan proyek ini?

Karena satu hal yang pasti: publik sudah tidak butuh narasi manis. Publik menuntut bukti. (Tim)

Share :

Baca Juga

Daerah

SKANDAL BATU GAJAH ILEGAL DI BIREUEN MELEDAK! GUNUNG DIKULITI, HUKUM SEAKAN DIBUNGKAM

Daerah

Bupati Bireuen Tancap Gas! Empat Proyek APBN Dipantau Langsung, Pemulihan Pasca Banjir Dikebut Tanpa Kompromi

Daerah

Ketua BKMT Ny. Hiryani Razuardi Serahkan Sertifikat, Apresiasi Nakes Berprestasi di Puncak Pekan Imunisasi Dunia 2026

Daerah

PEMERINTAH KABUPATEN BIREUEN TEGASKAN KOMITMEN: BEKERJA UNTUK RAKYAT, MENUJU DAERAH MAJU DAN SEJAHTERA

Daerah

Bupati Bireuen H. Mukhlis Tancap Gas di DPRA: Dorong Revisi UU Pemerintahan Aceh Demi Masa Depan Lebih Kuat

Daerah

“PESTA PENJARAHAN” DI Kabupaten Bireuen: SAAT BATU GAJAH DIANGKUT BEBAS, HUKUM DIPERTARUHKAN

Daerah

Bupati Bireuen H. Mukhlis Tancap Gas di DPRA: Dorong Revisi UU Pemerintahan Aceh Demi Masa Depan Lebih Kuat

Daerah

VIRAL! Bantahan Keras Mutia Sari Soal Isu Perselingkuhan dengan Bupati Aceh Timur