ACEHPOST — Bireuen Praktik tambang batu gajah ilegal di Kabupaten Bireuen kini bukan lagi sekadar pelanggaran—ini sudah menjadi kejahatan terbuka terhadap alam yang berlangsung tanpa rasa takut.
Di sejumlah titik panas seperti Kecamatan Jeunieb (Desa Meunasah Lung), Kecamatan Juli, hingga Kecamatan Simpang Mamplam (wilayah Krueng Meusagop dan bateilik dan sekitarnya), aktivitas pengerukan berlangsung brutal siang dan malam. Gunung-gunung dikeruk habis, tebing dipangkas tanpa kendali, seolah tidak ada aturan yang berlaku.
Truk-truk bermuatan batu gajah melintas bebas di jalan nasional. Debu pekat menutup pandangan, jalan rusak dihantam beban berat, dan masyarakat hanya bisa menonton kehancuran di depan mata.
“Ini sudah keterlaluan! Mereka tidak peduli bencana, tidak peduli keselamatan warga. Yang penting untung!” ungkap seorang warga dengan nada geram.
Yang paling mencengangkan, aktivitas ini tetap berjalan meski wilayah Bireuen sebelumnya sempat dilanda bencana alam. Bukannya berhenti, para pelaku justru semakin liar dan agresif, mengeruk sumber daya tanpa memikirkan dampak jangka panjang.
Situasi ini memicu pertanyaan besar di tengah publik:
Di mana aparat? Di mana pengawasan? Siapa yang bermain di balik semua ini?
Sejumlah aktivis lingkungan menyebut kondisi ini sebagai “pembiaran sistematis” yang berpotensi menyeret banyak pihak. Jika dibiarkan, Bireuen terancam menghadapi krisis lingkungan serius—mulai dari longsor, banjir bandang, hingga rusaknya ekosistem permanen.
Masyarakat kini mendesak pemerintah daerah dan aparat penegak hukum untuk tidak lagi sekadar diam. Penertiban harus dilakukan segera, menyeluruh, dan tanpa kompromi.
Karena jika gunung sudah habis, sungai rusak, dan bencana datang—tidak ada lagi yang bisa diselamatkan.









